PENDIDIKAN DAN RANTAI KEMISKINAN Kisah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berhasil menembus perguruan tinggi sudah sering kita dengar. Seperti yang dialami Raeni, anak tukang becak yang meraih IPK 3,96 di Universitas Negeri Semarang. Ia bahkan mendapat tawaran kuliah S-2 ke Inggris. Setiap kali ke daerah pertanian, saya sering menemukan petani yang melakukan segala upaya agar anak-anaknya jangan lagi jadi petani, dengan menyekolahkan anaknya menjadi sarjana. Namun, sukseskah mereka memutus mata rantai kemiskinan? Bukankah pada statutanya kini PTN BH wajib memberikan beasiswa 20 persen untuk kalangan kurang mampu? Aliran Kognitif Kesadaran afirmatif, memberi akses pendidikan seperti di atas bukan hanya ada di sini. Harusnya kita percaya sekolah bisa menjadi anak tangga yang bagus untuk memutus mata rantai kemiskinan. Pendapat umum mengatakan keluarga miskin melahirkan generasi-generasi yang sama miskinnya karena ketiadaan akses untuk mencapai pendidikan yang tinggi. Po...
SGI Bima: Gelar Buka Bersama Senin, 19 Juni 2017, SGI Bima bersama Dewan Peng urus Daerah, Korwil SGI Kota Bima dan Presidium FSGI Pusat gelar buka bersama di Yuank Cafe kota Bima. Sebelum buka bersama diskusi semakin hangat tentang persoalan Full Day School yang lagi marak dibicarakan pada saat ini. Diskusi semakin berkualitas karena masing-masing punya pandangan dan solusi terhadap kebijakan pemerintah pusat. SGI Bima berpendapat apabila kebijakan delapan jam perhari ini dari pukul 07.00-16.00 sore akan berdampak buruk bagi peserta didik. Secara kebijakan ini tidak sesuai dengan kondisi dilapangan terutama di sekolah-sekolah didaerah Bima. Diskusi semakin menarik disampaikan oleh Asrul Raman.M.Pd ketua Lakpesdam NU Bima yang sekarang menempuh program pasca sarjana di Universitas Indonesia, Asrul menyampaikan tentang tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan di daerah Bima yang belum tersentuh untuk diteliti lebih jauh dan konsen. Untuk itu SGI Bima harus meneliti dan memiliki...
Komentar
Posting Komentar